Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta tanah air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta tanah air. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

mading: puisi rintihan emi & hutanku by emi efrini

Dulunya…
Engkau begitu hijau dan terlihat asri
Takkan terpikirkan engkau akan begini
Engkau mulai memanas
Engkau terlihat bersedih    
Engkau seolah menjerit
Entah…
Entah  apa yang terjadi
Mengapa penghunimu
Tak mendengarkan jeritanmu
Air …
Dulunya engkau melimpah ruah
Engkau mengaliri seluruh bumi ini
Tapi mengapa kini engkau tak bisa dijumpai
Satu tetes kinipun engkau begitu berharga
Kemana engkau…
Kemana engkau yang selama ini
Yang mengaliri seluruh jagat raya ini
Hijaunya lingkungan yang penuh
Dengan reremputan dan pepohonan
Kini mulai melayu
Bumi merinduka air
Bumi merindukan sejukmu
Embun pagi dan hijaunya tumbuhan
Kembalilah …
Bumi merindukan kesejukan
Dan keasrian lingkungan yang hijau

(karya : Emi efrini/ X 1)


HUTANKU
Kemanakah engkau kini
Tampak hilang seperti ilusi
Menyisakan beban dalam hati
Mentari terasa panas menyinari
Pagi indahkupun telah buyar
Tak dapat ku hirup udara segar
Ketika kabut pagi telah pudar
Tergantikan dengan asap nan tebal
Hari-harikupun terasa kusam
Warna hijau berubah menjadi hitam
Hangus terbakar
 

mading: puisi pertiwiku by nur endang rahayu

Lihatlah bumi  pertiwiku
Kini tampak sedih
Berduka melihat bumi
Yang semakin menua

Lingkungan kini tak asri lagi
Kala siang terasa panas
 pagi pun tak  sejuk lagi
Tak ada pohon yang menghiasi
Betapa gersang bumi ini

Hutan-hutan yang kau kikis
Pohon-pohon tumbang karena mesin
Simpanan air kian menyusut
Bumi makin gersang
Ia kini rapuh diterpa bencana
Banjir menerjang semua
Kekeringan menghempaskan kehijaun




Kau sendiri yang merusak tanah surgamu
Jangan heran jika tanahmu tak lagi subur
Jangan heran jika lautmu tak lagi indah
Jangan heran jika musimpun tak tentu arah

Kaulah yang merusaknya
Dengan tangan keserakahanmu
Telah kau jadikan alam sebagai pemuas nafsu
Dan kau lupakan anak cucumu

Lihatlah bumi pertiwiku
Tatapannya kosong
Merana melihat bumi
Yang semakin tak bersahabat
(NUR ENDANG RAHAYU / X2)
12 September 2015